Serunya Malam Minggu Ditemani Permainan Angklung “Cendrawasih“

DEMAK – Grup Musisi “Cendrawasih” sedang mempertunjukkan kesenian angklung di Alun-alun Demak pada Rabu, 20 Oktober 2019. Kesenian yang dimulai dari pukul 18.00 WIB -21.00 WIB ini berhasil menarik perhatian dan membius penonton dengan irama yang dimainkan. (FOTO: Tim Seni dan Budaya).

Jumat, 01 November 2019 – 03: 35 WIB.

DEMAK – Malam minggu di alun-alun Demak kali ini sedikit berbeda dari biasanya. Pasalnya, kini setiap malam minggu pengunjung alun-alun Demak disuguhi pertunjukan kesenian angklung yang dibawakan oleh grup musisi “Cendrawasih“. Pertunjukan kesenian ini makin menambah ramainya pengunjung alun-alun Demak. Kesenian yang dimulai dari pukul 18.00 WIB -21.00 WIB ini berhasil menarik perhatian dan membius penonton dengan irama yang dimainkan.

Baca Juga: Keramaian Pasar “Krempyeng” di Kota Wali Dongkrak Ekonomi

Baca Juga: Pecah!! Pagelaran Seni Budaya di Taman Indonesia Kaya

Baca Juga: Menikmati Alunan Angklung di Malioboro

Angklung dan Kombinasi Musik Tradisonal

Kesenian yang terdiri dari bas, gendang, mini drum, dan angklung diramu dengan ciamik untuk membawakan berbagai lagu yang sedang tren di era kekinian.

 Khumaidi, salah satu pengunjung dari desa Trengguli, Wonosalam, Demak, menyatakan, “Kesenian ini menghibur pengunjung yang datang di alun-alun Demak, dengan adanya pertunjukan kesenian ini, menambah ramainya alun-alun ”.

Apabila ingin menyaksikan pertunjukan ini, pengunjung cukup membayar dengan sukarela. Tak mengherankan apabila pertunjukan ini tidak pernah sepi penonton, dikarenakan selain kepiawaian musisi memainkan lagu, penonton tak perlu merogoh kocek cukup dalam. (KPI/UIN Walisongo/Reporter: Febi Nurun Nabila/1701026141/Fuadilla AlHumaira/1701026144/Arum Aminatun Nasichah/1701026147/Ayu Novia Syifa Alifa/1701026149/Editor: Anna

Cakruma SKM Amanat: Jalan-Jalan Sambil Hunting Berita

SEMARANG – Foto bersama calon Kru Magang (cakruma) Surat Kabar Mahasiswa (SKM) Amanat  dan Kru SKM Amanat di depan taman Sri Gunting, Kota Lama setelah melakukan hunting berita. (Minggu, 20/10/2019). (FOTO: Nur Ainun Latifah/1701026027).

Jumat, 01 November 2019 – 03: 20 WIB.

SEMARANG – Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Surat Kabar Mahasiswa (SKM) Amanat melakukan kegiatan hunting berita ke kawasan Kota Lama taman Sri Gunting. Kegiatan tersebut diikuti kurang lebih 30 orang calon kru magang (cakruma) SKM Amanat, (Minggu, 20/10/2019).

Selaku ketua panitia, M. Shafril Hidayat mengatakan bahwa kegiatan tersebut  merupakan rangkaian acara dari penerimaan anggota baru SKM Amanat tahun 2019.

“Kemarin kan sudah diadakan seleksi dari tes tertulis sampai pra workhop, setelahnya akan ada workshop. Jadi kegiatan ini untuk melatih mereka,” imbuhnya.

Baca Juga: Wakil KPID Jateng: Masyarakat Hanyalah Korban Iklan

Baca Juga: Perspektif Psikologi Seseorang Sebelum Ada Sosmed

Baca Juga: Pendingin Ruangan Sudah Berfungsi, Ini Tanggapan Mahasiswa

Sebelum diarahkan untuk mencari berita di luar kampus, calon kru magang diberi tugas untuk membuat berita seputar kampus.

“Berita seputar kampusnya berupa Straight News (SN) , sedangkan di luar kampus berita feature,” tambahnya.

Shafril juga menambahkan bahwa kegiatan tersebut merupakan simulasi calon kru magang sebelum melakukan workshop.

“Ditugaskanya para cakruma di Kota Lama itu, biar nanti saat Workshop mereka tidak kaget dan sudah pernah melakukan liputan langsung terjun ke lapangan,” ujarnya.

Sedangkan Naili Istiqomah selaku Human Resources Development (HRD) SKM Amanat, mengatakan bahwa kegiatan tersebut bertujuan untuk mengetahui sejauh mana kemampuan calon kru magang dalam menulis.

“Setelah pembelakan materi yang diberi saat pra-workhop, calon kru magang diarahkan untuk langsung mempraktikan saat workhop nanti,” jelas Naili.

Workshop sendiri merupakan kegiatan pelatihan jurnalistik intensif  kepada para cakruma SKM Amanat. Pada workshop yang akan diadakan, para cakruma juga akan ditugaskan membuat produk cetak berupa buletin yang harus diselesaikan dalam waktu tiga hari dua malam.

(KPI/UIN Walisongo/Reporter: Vina Ulkonita/1701026017/Nur Ainun L./1701026027/ Editor: Anna Puji Lestari).

Wakil KPID Jateng: Masyarakat Hanyalah Korban Iklan

SEMARANG – Wakil Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah Jawa Tengah (KPID Jateng) , Asep Cuwantoro saat sedang menyampaikan seminar dalam acara Pelatihan dan Workshop Literasi Media yang diselenggarakan oleh Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) di Auditorium I Kampus I UIN Walisongo Semarang, Sabtu (26/10/2019). (FOTO: Vina Ulkonita/1701026017).

Jumat, 01 November 2019 – 03: 16 WIB.

Semarang-“Televisi adalah sarana hiburan yang murah, hemat dan mudah diakses. Semuanya ada di televisi, baik berita sinetron maupun hiburan lainnya, “ujar Asep Cuwantoro.

Wakil Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah Jawa Tengah (KPID Jateng) tersebut hadir sebagai narasumber dalam acara pembukaan Pelatihan dan Workshop Literasi Media yang diselenggarakan oleh Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam di Auditorium I Kampus I UIN Walisongo Semarang, Sabtu (26/10/2019).

Baca Juga: Pendingin Ruangan Sudah Berfungsi, Ini Tanggapan Mahasiswa

Baca Juga: Perspektif Psikologi Seseorang Sebelum Ada Sosmed

Dalam kesempatan tersebut, ia menyampaikan bahwa saat ini masyarakat hanyalah korban iklan. “Sekarang apa yang tidak ada iklannya? Kamu pakai shampo apa?” tanya Asep kepada salah satu peserta.

“Nah Head and Shoulders, ada iklannya tidak? Ada! Sekarang hampir semua produk memiliki iklan,“ujar Asep bersemangat.

Asep menuturkan bahwa televisi telah menjadi kebutuhan dan begitu dekat di hati masyarakat. Maka dengan mudah psikologi penonton dipengaruhi oleh berbagai acara yang ditayangkan. Bahkan ukuran cantik dan tampan pun dikonstruksikan seperti apa yang sering diperlihatkan di televisi.

“Cantik itu harus kulitnya putih, hidungnya mancung, tinggi semampai. Ganteng itu harus tinggi, gagah dan lain sebagainya. Semua ditampilkan secara terus menerus di televisi sampai akhirnya terekam di benak masyarakat,” jelasnya.

Asep juga mengatakan bahwa penting menjadi masyarakat cerdas, salah satunya dengan literasi media agar kita tak hanya menjadi objek media. Namun, kita juga harus bisa memilih apa yang baik untuk ditonton.

(KPI UIN Walisongo/Reporter: Vina Ulkonita/170102017/Nur Ainun Latifah/1701026026/Editor: Anna Puji Lestari).

Promosikan Kedamaian: RRI Kota Semarang Gandeng Life Skill Daarun Najaah

SEMARANG – Santri Life Skill Daarun Najaah berfoto bersama kru RRI Kota Semarang di Aula At – Taqiy Pesantren Life Skill Daarun Najaah Semarang, Jum’at (18/10/2019). ( Foto: Hamdan Ikhwan/1701026146 ).

Jumat, 01 November 2019 – 03: 15 WIB.

SEMARANG – Dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional (HSN), Radio Republik Indonesia (RRI) Kota Semarang mengadakan acara dialog interaktif bekerja sama dengan Pondok Pesantren Life Skill Daarun Najaah.

Tema yang diusung adalah “Santri Indonesia untuk Perdamaian Dunia”. Acara dimulai pada pukul 08.00 WIB  – 09.00 WIB bertempat di Aula At – Taqiy dengan dihadiri para santriwan dan santriwati Life Skill Daarun Najaah.

Pada acara tersebut, RRI menghadirkan dua pembicara, yakni Fitri Kholilah dan Muhammad Jamaluddin. Keduanya merupakan santri Life Skill Daarun Najaah. Dialog interaktif tersebut dipandu oleh Bahtiar, salah satu penyiar RRI .

Baca Juga: Kordais Mengundang Gus Miftah Dalam Rangka Milad Kordais Ke-34

Baca Juga: Tabligh Akbar Bersama Habib Umar bin Hafidz

Baca Juga: Keren!! Ponpes Daarun Najaah Ajarkan Santri Membuat Sabun

Fitri Kholilah, dalam dialog interaktif tersebut menyampaikan bahwa santri sangat berperan dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, sehingga sangat pantas jika Pemerintah menghargai perjuangan santri dengan menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional.

Fitri juga menuturkan kehidupan santri yang penuh dengan keanekaragaman, baik dari segi bahasa, suku, budaya, dan tetap saling menghormati.

Sementara itu, Muhammad Jamaluddin lebih menekankan kepada penguatan jati diri santri dan hal-hal yang harus dilakukan oleh santri dalam mengisi Hari Santri Nasional tersebut. ( Reporter : KPI /UIN Walisongo/Reporter: Hamdan Ikhwan/1701026146 / Hamid Yusron/1701026163/Editor: Anna Puji Lestari).

Kordais Mengundang Gus Miftah Dalam Rangka Milad Kordais Ke-34

SEMARANG – Korps Dakwah Islam ( KORDAIS ) mendatangkan K.H. Miftah Maulana Habiburrahman. Ustadz yang dikenal dengan sebutan Gus Miftah itu diundang untuk mengisi tausyiah dalam acara Kordais Bersholawat pada Jum’at ( 18/10/2019 ) bertema “Cinta Al-Quran di Era Milenial”.

Jumat, 01 November 2019 – 03:00 WIB.

SEMARANG – Korps Da’i Islam ( KORDAIS ) mendatangkan K.H. Miftah Maulana Habiburrahman . Ustadz yang dikenal dengan sebutan Gus Mifta itu diundang untuk mengisi tausiah dalam acara Kordais Bersholawat pada Jum’at ( 18/10 ).

Ketua Umum Kordais, Bahrul Ulum menjelaskan, acara Kordais Bersholawat merupakan malam puncak Miladiyah Kordais ke-34.

Mereka memilih Gus Miftah karena dianggap sebagai Ustadz Milenial dan sesuai dengan tema Miladiyah Kordais ke-34

“Kesepakatan dari panitia mengundang Gus Miftah, karena Gus Miftah termasuk pembicara yang mengena di generasi milenial dan disukai banyak orang,” jelasnya.

Baca Juga: Keren!! Ponpes Daarun Najaah Ajarkan Santri Membuat Sabun

Baca Juga: Tabligh Akbar Bersama Habib Umar bin Hafidz

Serangkaian acara Miladiyah UKM Kordais yang ke-34 ini, mengusung tema “Cinta Al – Qur’an di Era Milenial”, hal ini dinilai cocok untuk membentuk kaum muda menjadi lebih baik serta bisa dijadikan inspirasi banyak orang.

Ketua Panitia Miladiyah Kordais, Oki Andhika Dwi, mengungkapkan beberapa terobosan baru dalam acara Miladiyah Kordais tahun ini. “Acara baru kita salah satunya bertajuk Jagongan Tobat dan Workshop Tilawah,” Ujar Oki.

Selain Gus Miftah, serangkaian acara Miladiyah Kordais juga turut menghadirkan Ikhwan Saefulloh sebagai Pendiri Santrendelik dan Musthofa Kamal sebagai Pendiri Santri Nasional Indonesia (Sanindo) .

“Kita memilih Santrendelik dan Sanindo, karena cara dakwah mereka yang unik dan sesuai untuk kaum Millenial,“ pungkasnya. ( KPI / UIN Walisongo / Reporter: Hamdan Ikhwan /1701026146 /Hamid Yusron / 1701026163/ Editor: Anna Puji Lestari ).

Semarang Memanas di Musim Pancaroba

SEMARANG – Tanah di salah satu area kawasan Bukit Semarang Baru (BSB) Semarang semakin mengering diakibatkan musim pancaroba. Tanah tersebut juga dipenuhi sampah plastik dan menjadi semakin tandus dan gersang disebabkan panas yang kian ekstrem akibat pemanasan global dan warga yang kurang peduli terhadap kebersihan lingkungan. Musim pancaroba yang terjadi saat ini antara musim kemarau dan musim penghujan, biasa terjadi pada bulan Oktober hingga Desember, disebut mangsa labuh. (FOTO: Miftahul Rizqi/1601026090).

Jumat, 01 November 2019 – 02: 55 WIB.

SEMARANG – Kondisi cuaca dengan curah hujan sedikit menimbulkan hawa panas. Akibatnya, banyak tanah mengalami kekeringan sehingga dengan terpaksa beberapa kegiatan ekonomi diberhentikan sementara, seperti yang terjadi di Kecamatan Mijen.

Di Kecamatan Mijen, Kota Semarang, tepatnya di daerah Bukit Semarang Baru (BSB) juga mengalami kekeringan tanah yang berlangsung lebih dari satu minggu.

Kawasan ini kini tampak sangat gersang dengan suhu udara panas yang ekstrem, ditambah lagi, minimnya tanaman hijau semakin memperburuk kondisi area ini.

Baca Juga: Kemarau Panjang Menyebabkan Persawahan Kering

Baca Juga: Menjaga TBRS Sebagai Taman Kota

Baca Juga: Bahaya! Sampah di Tempat Wisata Meresahkan Wisatawan, Sebabkan Polusi Udara. Begini Ceritanya…

Hardi Lesmana (42), seorang mandor bangunan di kawasan tersebut menjelaskan, sudah hampir lima hari pekerjaan di proyek dihentikan dikarenakan cuaca yang kian hari kian panas. “Karena cuacanya kian hari kian panas banget, jadi saya sengaja liburkan dulu sampai musim hujan tiba, dikhawatirkan nanti banyak kuli yang kena dehidrasi parah,” ujar Hardi Lesmana.

Di Area tersebut, rencananya akan dibangun perumahan dan kios untuk dijual sebagai tambahan bangunan properti yang akan ditawarkan kepada investor.

Hardi berharap kondisi cuaca panas tidak semakin parah dan mengakibatkan banyak pekerjaan tertunda. (KPI/UIN/ Walisongo/Reporter: Miftakhul Rizqi/ 1601026090/ Fariha Hudiya Firdaus/ 1601026091/ Eva Fauziah/ 1601026106/ Zumaroh Tur Riskiya/ 1601026124/ Editor: Anna Puji Lestari).

Indonesia Open X-Sports Championship di Karanganyar


SEMARANG – Indonesia Open X-Sports Championship (IOXC) ke-11 digelar di Karanganyar tepatnya pada tanggal 25-27 Oktober 2019. Salah satu cabang olah raga di IOXC adalah Freestyle Skateboard. Final Freestyle Skateboard diadakan di alun-alun Karanganyar, (27/10) dan dimenangkan oleh tuan rumah, warga asli Karanganyar. (FOTO: Ahdi Fauzul J./1701026143).

Jumat, 01 November 2019 – 02: 45 WIB.

SEMARANGIndonesia Open X-Sports Championship (IOXC) merupakan perlombaan olahraga ekstrem tingkat Internasional yang diselenggarakan setiap tahun oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), di bawah naungan Deputi Bidang Pembudayaan Olahraga. IOXC merupakan wujud perhatian pemerintah untuk merangkul anak muda pecinta olahraga ekstrem dan wadah penyaluran bakat.

Karanganyar Menjadi Tuan Rumah

Pada tahun ini, Karangayar, Semarang, menjadi tuan rumah ajang perlombaan bergensi tersebut. Melalui event tersebut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karanganyar berharap dapat mengenalkan olahraga ekstrem dan pembinaan atlet, serta mampu mempromosikan pariwisata di Karanganyar.

Dua Belas Negara Ikut Berpartisipasi

IOXC ini diikuti oleh 362 atlet dari dua belas negara, yakni Indonesia, Perancis, Singapura, Jepang, Kanada, Brunei Darussalam, Malaysia, Australia, Thailand, Philipina, dan Amerika Serikat.

Terdapat enam cabang olahraga yang digelar pada IOXC ke-11 yang diadakan tahun ini, yakni Aggressive Inline, Skateboard, BMX, Bboy, Freestyle Basketball, dan Freestyle Soccer. Hal yang menarik lainnya, juga digelar cabang olahraga Fun Climbing khusus anak usia di bawah delapan tahun.

Baca Juga: Intip Adu Gesit Peslalom Indonesia di Semarang

Baca Juga: Sepak Terjang Tim Basket UIN Walisongo

Baca Juga: Asyiknya Warga Semarang Bergoyang Zumba

Ditutup dengan Ikrar Sumpah Pemuda

Penutupan perhelatan olahraga ekstrem IOXC dimeriahkan dengan mengikrarkan Sumpah Pemuda, yang bertepatan dengan malam 28 Oktober, yakni hari peringatan Sumpah Pemuda. Masyarakat Karanganyar dengan antusias mengikrarkan Sumpah Pemuda yang dipimpin langsung oleh Bupati Karanganyar. Masyarakat merasa senang dengan diadakannya event tersebut. Pasalnya, selain sebagai hiburan, juga sebagai pembuktian kreatifitas dan bakat anak muda.

Event ini sangat bagus, apalagi ini juga memperingati hari Sumpah Pemuda. Jadi talent-talent pemuda lebih terasa dengan diadakannya lomba-lomba tersebut,” tutur Salma, salah seorang penonton IOXC asal Karanganyar. (KPI/UIN Walisongo/Reporter: Yulina/1701026158/Lintang Angguningtyas/1701026157/Rohmatin Widayati/1701026154/ Ahdi Fauzul J./1701026143/Editor: Anna Puji Lestari).

Asyiknya Warga Semarang Bergoyang Zumba

SEMARANG – Ratusan warga Semarang mengikuti senam zumba di halaman Balaikota Semarang, Minggu (13/10/2019). Warga Semarang sangat antusias mengikuti setiap gerakan yang dicontohkan oleh instruktur senam. (FOTO: Lintang Angguningtyas/1701026157).

Kamis, 17 Oktober 2019 – 10:30 WIB.

SEMARANG – Senam zumba menjadi kegiatan rutin yang selalu ada setiap minggu di Car Free Day  yang berlangsung di depan Balaikota Semarang. Namun,  minggu ini senam zumba berlangsung di halaman Balaikota Semarang.  Ratusan warga memadati halaman Balaikota, Semarang, Minggu  (13/10/2019).

Masyarakat terlihat bersemangat dalam mengikuti setiap gerakan yang dicontohkan oleh instruktur senam dengan alunan musik dari berbagai genre. Tak hanya ibu-ibu yang antusias mengikuti senam, anak-anak,  remaja dan lansia pun turut memeriahkan kegiatan tersebut.

Bagian dari Acara Roadshow Gerakan Nasional

Senam Zumba menjadi salah satu kegiatan dalam ragkaian acara Gerakan Nasional Pilah Sampah dari Rumah yang diselenggarakan oleh Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan Direktorat Jendral Pengelolaan Sampah,  Limbah dan Bahan Beracun Berbahaya (Ditjen PSLB3) yang berlangsung di Balaikota Semarang.

Baca juga: Intip Adu Gesit Peslalom Indonesia di Semarang

Semarang menjadi tempat singgah Roadshow Pilah Sampah Dari Rumah yang ke-4 setelah sebelumnya diselenggarakan di sejumlah kota di Indonesia, yaitu di Jakarta,  Bitung Sulawesi Utara, dan Mataram. Semarang dipilih sebagai salah satu kota karena dinilai mempunyai komitmen untuk pengelolaan sampah yang baik.

Acara yang berlangsung pada Minggu, 13 Oktober 2019 di Balaikota, Semarang juga dihadiri Wakil Walikota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu dan Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Rosa Vivien Ratnawati.

Hevearita Gunaryanti Rahayu atau akrab disapa Mbak Ita menyatakan, “Kedepannya sejumlah 300 ton – 400 ton sampah akan diolah untuk menambah aliran listrik di kota Semarang.”

Ditutup dengan Hiburan

Selain senam zumba, kegiatan sosialisasi pilah sampah dari KLHK dan pameran ecobrix dari bank sampah di Semarang, acara ini ditutup dengan hiburan dari drumband SMA dan penampilan dari band indie Semarang.

Setelah melakukan senam, para peserta semangat berkunjung ke stan-stan bank sampah,  serta menyaksikan penampilan drumband SMPN 1 Semarang dan penampilan spesial dari band indie Semarang. (KPI/UIN Walisongo/Reporter: Yulina/1701026158/ Lintang Angguningtyas/1701026157/Rohmatin Widayati/1701026154/ Ahdi Fauzul J./1701026143/ Editor: Anna Puji Lestari).

Kemarau Panjang Menyebabkan Persawahan Kering

SEMARANG – Musim kemarau menyebabkan sawah kering. Aliran air yang bersumber dari sungai terdekat juga ikut kering. Hal ini menyebabkan kekeringan persawahan di daerah Taman Sari, Mranggen, Selasa (15/10/19) (FOTO: Fariha Hudiya Firdaus/ 1601026091).

Kamis, 17 Oktober 2019 – 10:10 WIB.

SEMARANG – Kemarau panjang terjadi di sejumlah daerah di Semarang, termasuk daerah Mranggen. Sejumlah persawahan di  daerah Taman Sari, Mranggen mengalami kekeringan berhari-hari, bahkan berbulan-bulan. Sungai yang menjadi tempat utama pengaliran sawah tersebut juga ikut kering.

Keseharian warga Taman Sari yang biasanya menggarap sawah-sawah tersebut mendadak berhenti. Bahkan, beberapa petani menganggur karena tidak memiliki keahlian selain bertani. Namun, ada pula beberapa orang yang beralih profesi menjadi driver Gojek dan Grab. Ada pula yang akhirnya berjualan es di siang hari (Selasa 15/10/2019).

Munir (50 th), selaku warga Taman Sari sangat meresahkan kemarau panjang yang terjadi. Keringnya sawah-sawah disana membuat Munir menganggur. Kebutuhan hidup sehari-hari menyebabkan Munir berdagang gorengan di sore hari dengan penghasilan seadanya. “Kemarau ne dowu banget mba bingung leh opo, yo mung iso dodolan gorengan karo bojoku tok. Penghasilane yo rak nentu nak rame yo Alhamdulilah, nak rak rame yo wasyukurillah,” ujar Munir. (Kemaraunya panjang sekali, Mbak, ya cuma bisa jualan gorengan sama istri saya saja. Penghasilannya ya tidak menentu, kalau ramai ya Alhamdulillah, kalau tidak ramai ya wasyukurillah).

Panasnya kemarau juga di rasakan oleh Amel, salah satu warga Taman Sari, “Kalau siang panas banget, mau keluar tuh rasanya udah males. Tapi mau gimana lagi gak bisa kerja kalo gak keluar” ujar Amel.

Baca Juga: Menjaga TBRS Sebagai Taman Kota

Kurangnya penghijauan juga menimbulkan panasnya daerah Mranggen sehingga menimbulkan cuaca panas yang sangat ekstrim. Hal ini memperparah terjadinya global warming akibat lapisan ozon menipis dikarenakan banyaknya kendaraan bermotor dan penggunaan pendingin berskala besar.

Selain itu, pemanasan global yang terjadi merupakan dampak efek rumah kaca. Efek rumah kaca adalah istilah untuk menggambarkan peristiwa meningkatnya konsentrasi gas karbondioksida dan gas lainnya di atmosfer yang akan mengganggu penyerapan energi. Energi yang diserap akan dipantulkan kembali dalam bentuk radiasi inframerah oleh awan dan juga permukaan Bumi. Namun, sebagian besar inframerah tersebut akan tertahan oleh awan dan gas karbondioksida serta gas lainnya untuk dikembalikan ke permukaan Bumi. Hal ini akan membuat suhu di Bumi menjadi panas.

Salah satu pencegahan agar tidak terjadi panas ekstrim adalah memeperbanyak penghijauan. (KPI/UIN Walisongo/Reporter: Miftakhul Rizqi/ 1601026090/ Fariha Hudiya Firdaus/ 1601026091/ Eva Fauziah/ 1601026106/ Zumaroh Tur Riskiya/ 1601026124/Editor: Anna Puji Lestari).

Perspektif Psikologi Seseorang Sebelum Ada Sosmed

SEMARANG – M. Zein Permana dosen Fakultas Psikologi Universitas Jendral Ahmad Yani Yogyakarta dalam “Seminar Nasional Psikologi 2019” sedang menyampaikan materi. Seminar tersebut diselenggarakan di Auditorium II Kampus 3 UIN Walisongo, Kamis (03/10/2019) (Foto: Vina Ulkonita/1701026017).

Kamis, 17 Oktober 2019 – 09:45 WIB.

SEMARANG– Pembicara dalam acara” Seminar Nasional Psikologi 2019”, M. Zein Permana, memulai materinya dengan sebuah cerita tentang perspektif psikologi seseorang sebelum adanya sosial media.

Ia menjelaskan tentang relasi sosial kepada seluruh peserta “Seminar Psikologi 2019” yang bertajuk “Ada Apa di Ruang Maya: Memanfaatkan ruang maya untuk menemukan jati diri, menjawab tantanganmu di era digital,” di Auditorium II Kampus 3 UIN Walisongo Semarang, Kamis (03/10/2019).

Baca Juga: Pendingin Ruangan Sudah Berfungsi, Ini Tanggapan Mahasiswa

Dalam seminar yang dihadiri ratusan peserta tersebut, Dosen Fakultas Psikologi Universitas Jendral Ahmad Yani itu mengisahkan beberapa cerita yang menggambarkan mengenai relasi sesama manusia.

“Sebelum ada sosial media kita perlu banyak langkah untuk mengenal orang asing. Namun, adanya sosial media memangkas jarak tersebut,” kata Zein.

Selain itu, ia mengatakan, sosial media bersifat egaliter. Artinya, di dunia maya setiap orang mendapat perlakuan yang setara. Setiap orang berhak memiliki sosial media apapun latar belakangnya.

“Kita bisa setara dengan orang lain tetapi kita kesulitan menempatkan diri,” ucapnya cemas

Ia juga mengatakan, ada juga sisi negatif dari sosial media, yakni seseorang dapat mengenal baik orang lain tetapi kesulitan mengenali diri sendiri.“Kita dapat mengenali orang lain namun sering kali kehilangan kemampuan beradaptasi dengan diri sendiri,” lanjutnya.

Ia pun memberikan nasihat agar para peserta seminar memiliki relasi yang sehat baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Selain itu, seseorang harus mampu berlaku seimbang terhadap setiap relasi yang dimiliki agar antarrelasi tidak saling merusak.

“Jangan sampai relasi dengan pacar merusak relasi dengan teman, atau relasi dengan teman merusak relasi dengan dosen. Semua relasi harus seimbang,” ujarnya.

Sebagai penutup, Founder HEI Academy tersebut mengingatkan agar setiap orang lebih mengenali diri dengan cara jujur terhadap diri sendiri dan tidak terlalu fokus dengan kepentingan orang lain.

“Sosial media memang digunakan untuk berkoneksi dengan orang lain. Namun jangan hanya mengenali orang lain karena justru yang paling penting adalah mengenali diri sendiri,”pungkasnya. (KPI/UIN Walisongo/Reporter: Vina Ulkonita/1701026017/Nur Ainun L./1701026027/ Editor: Anna Puji Lestari).

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai