Kemarau Panjang Menyebabkan Persawahan Kering

SEMARANG – Musim kemarau menyebabkan sawah kering. Aliran air yang bersumber dari sungai terdekat juga ikut kering. Hal ini menyebabkan kekeringan persawahan di daerah Taman Sari, Mranggen, Selasa (15/10/19) (FOTO: Fariha Hudiya Firdaus/ 1601026091).

Kamis, 17 Oktober 2019 – 10:10 WIB.

SEMARANG – Kemarau panjang terjadi di sejumlah daerah di Semarang, termasuk daerah Mranggen. Sejumlah persawahan di  daerah Taman Sari, Mranggen mengalami kekeringan berhari-hari, bahkan berbulan-bulan. Sungai yang menjadi tempat utama pengaliran sawah tersebut juga ikut kering.

Keseharian warga Taman Sari yang biasanya menggarap sawah-sawah tersebut mendadak berhenti. Bahkan, beberapa petani menganggur karena tidak memiliki keahlian selain bertani. Namun, ada pula beberapa orang yang beralih profesi menjadi driver Gojek dan Grab. Ada pula yang akhirnya berjualan es di siang hari (Selasa 15/10/2019).

Munir (50 th), selaku warga Taman Sari sangat meresahkan kemarau panjang yang terjadi. Keringnya sawah-sawah disana membuat Munir menganggur. Kebutuhan hidup sehari-hari menyebabkan Munir berdagang gorengan di sore hari dengan penghasilan seadanya. “Kemarau ne dowu banget mba bingung leh opo, yo mung iso dodolan gorengan karo bojoku tok. Penghasilane yo rak nentu nak rame yo Alhamdulilah, nak rak rame yo wasyukurillah,” ujar Munir. (Kemaraunya panjang sekali, Mbak, ya cuma bisa jualan gorengan sama istri saya saja. Penghasilannya ya tidak menentu, kalau ramai ya Alhamdulillah, kalau tidak ramai ya wasyukurillah).

Panasnya kemarau juga di rasakan oleh Amel, salah satu warga Taman Sari, “Kalau siang panas banget, mau keluar tuh rasanya udah males. Tapi mau gimana lagi gak bisa kerja kalo gak keluar” ujar Amel.

Baca Juga: Menjaga TBRS Sebagai Taman Kota

Kurangnya penghijauan juga menimbulkan panasnya daerah Mranggen sehingga menimbulkan cuaca panas yang sangat ekstrim. Hal ini memperparah terjadinya global warming akibat lapisan ozon menipis dikarenakan banyaknya kendaraan bermotor dan penggunaan pendingin berskala besar.

Selain itu, pemanasan global yang terjadi merupakan dampak efek rumah kaca. Efek rumah kaca adalah istilah untuk menggambarkan peristiwa meningkatnya konsentrasi gas karbondioksida dan gas lainnya di atmosfer yang akan mengganggu penyerapan energi. Energi yang diserap akan dipantulkan kembali dalam bentuk radiasi inframerah oleh awan dan juga permukaan Bumi. Namun, sebagian besar inframerah tersebut akan tertahan oleh awan dan gas karbondioksida serta gas lainnya untuk dikembalikan ke permukaan Bumi. Hal ini akan membuat suhu di Bumi menjadi panas.

Salah satu pencegahan agar tidak terjadi panas ekstrim adalah memeperbanyak penghijauan. (KPI/UIN Walisongo/Reporter: Miftakhul Rizqi/ 1601026090/ Fariha Hudiya Firdaus/ 1601026091/ Eva Fauziah/ 1601026106/ Zumaroh Tur Riskiya/ 1601026124/Editor: Anna Puji Lestari).

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai