
Rabu, 09 Oktober 2019 – 09.10 WIB
SEMARANG – Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Walisongo Sport Club (WSC) yang bergerak di bidang keolahragaan sudah mampu memperkaya cabang olahraga untuk diikuti oleh mahasiswa. Salah satunya divisi basket. Divisi ini lahir dari sekumpulan mahasiswa yang hobi bermain basket, mereka berkumpul dan menyalurkan hobi.
Membangun Komunitas, Tak Semudah Mendrible Bola
Bagi sejumlah universitas, mungkin basket adalah olahraga yang banyak diminati dan mendapat perhatian. Namun, tidak untuk UIN Walisongo. Pada awal sepak terjangnya, tim ini tidak mendapatkan fasilitas yang dibutuhkan guna mendukung kegiatan latihan, seperti ring dan lapangan.
Oleh karena itu, mereka harus mencari lapangan terdekat kampus selama setahun sambil mengumpulkan anggota dan membuat grup, dan terbentuklah komunitas basket pada tahun 2017. Demikian sejarah tim tersebut sebagaimana dituturkan Nanda, sang pelatih mengenai lika-liku komunitas basket yang tak mudah hingga dapat tergabung dalam UKM.
Buktikan Kemampuan, Langsung Menang Tanding Perdana
Tidak banyak yang tahu, terdapat divisi basket di UIN Walisongo Semarang. Keberadaan mereka tidak mudah ditemukan dan hampir tidak terlihat. Setelah berhasil membuat komunitas, kekosongan pelatih menimbulkan perdebatan yang membuat sebagian anggota meninggalkan komunitas. Akhirnya, mereka memutuskan untuk merekrut pelatih.
Dana diperoleh dari uang kas iuran masing-masing anggota untuk membayar pelatih yang berlisensi dan berpengalaman untuk membuktikan keseriusan mereka dalam membangun komunitas basket. Bertemulah mereka dengan coach Garry, mantan pemain basket timnas yang kini menjadi pelatih.
Tidak hanya itu, mereka juga membuktikan kemampuan mereka saat berlaga di pertandingan basket antar Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) se-Jateng-DIY. Mereka berhasil menyabet juara 2. Dikarenakan prestasi tim tersebut, sebulan kemudian, mereka resmi dianungi oleh UKM WSC UIN Walisongo, Semarang. Setelah sebelumnya mengalami penolakan dari ketua umum UKM tersebut.
Berkembang di Tengah Keterbatasan
Setelah bergabung di UKM WSC, tidak membuat mereka bisa menikmati fasilitas yang dibutuhkan. Lapangan dan ring yang menjadi kebutuhan pokok olahraga basket, belum juga difasilitasi kampus. Harga ring yang tidak murah, berkisar hingga Rp150 juta membuat mereka membutuhkan sponsor untuk memenuhi kebutuhan divisi basket.
Namun sayangnya, sponsor yang datang justru ditolak oleh pihak kampus sendiri. Hal tersebut dikarenakan ada prosedur yang harus ditaati dari Badan Pengawas Keuangan (BPK) universitas. Tak patah arah, mereka mengajukan proposal untuk membuat lapangan multifungsi yang mampu digunakan untuk semua jenis olahraga, sebagaimana penuturan Nanda, “Di depan FISIP nanti, Mbak, tahun depan dibangun. Ya, walaupun proposal yang diajukan hanya cair setengah.”
Aktivitas, Pertandingan, dan Harapan
Kini, divisi basket mengalami peningkatan jumlah anggota, setelah mereka melakukan perekrutan melalui brosur. Mereka juga rutin melakukan latihan di beberapa lapangan dekat kampus, seperti lapangan Ngaliyan, Graha Padma dan BSB setiap hari Senin, Selasa, Rabu dan Jumat pukul 20.00 WIB hingga selesai.
Target mereka saat ini adalah memenangkan pertandingan regional Jateng-DIY dan Jawa-Madura, serta mengikuti pertandingan Nasional akhir tahun nanti. Nanda menyampaikan pesan dan harapannya untuk kemajuan divisi basket. Ia berharap, kampus tidak hanya mementingkan pendidikan akademik saja, tetapi juga menargetkan prestasi non akademik, khususnya bidang olahraga.
Pasalnya, banyak mahasiswa juga mempunyai kemampuan mumpuni apabila dibina dengan baik. Nanda juga menyampaikan pesan untuk birokrasi kampus, “Jangan mengharapkan prestasi apabila tidak mampu memfasilitasi.” (KPI/UIN Walisongo/Yulina/1701026158/Lintang Angguningtyas/1701026157/ Rohmatin Widayati/1701026154/ Ahdi Fauzul J./1701026143/Editor: Anna Puji Lestari).